Turunkan Prevalensi Stunting, AKI dan AKB, Pemda Sikka Gelar Rakor dan Penetapan Pokja

0
Bupati Sikka Robby Idong menandatangani penetapan Pokja didampingi kabid PPM dan dr. Henyo Kerong

MAUMERE-GAHARU NEWS.com – Dalam rangka membangun komitmen para pengambil kebijakan untuk mempercepat pencegahan dan penanggulangan stunting, AKI (Angka Kematian Ibu), dan AKB (Angka Kematian Bayi) pada tahun 2021, Pemda Kabupaten Sikka menggelar Rapat Koordinasi dan Penetapan Kelompok Kerja (Pokja). Rakor dan Penetepan Pokja tersebut digelar di aula Puskopdit Swadaya Utama, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Jumat (01/10/2021).

Hironimus Laja – Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada Bapelitbang Sikka

Dalam laporannya, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada Bappelitbang Sikka, Hironimus Laja menyampaikan bahwa dalam rangka mempercepat pencegahan dan penanggulangan stunting tahun 2021, Pokja Kabupaten Sikka menetapkan 3 (tiga prioritas).

Prioritas pertama yakni, menetapkan wilayah prioritas penanganan yang meliputi 26 desa. Prioritas kedua adalah, peningkatan pelayanan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan berusia 0-23 bulan (rumah tangga 1.000 HPK) dan prioritas ketiga adalah intervensi prioritas yang terdiri dari intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif, jelas pria yang biasa disapa Roni Laja ini.

Lebih lanjut dalam laporannya, Roni Laja menjelaskan, untuk mencapai prioritas tersebut diatas, perlu dilaksanakan Rapat Koordinasi dan Penetapan Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting, AKI dan AKB Tingkat Kabupaten Sikka tahun 2021.

Menurutnya, Rakor ini bertujuan untuk membangun komitmen para pengambil kebijakan dalam rangka percepatan penurunan stunting, mengevaluasi pelaksanaan Tim Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting (KP2S), dan tindak lanjut dalam rangka percepatan dan penanggulangan stunting. Selain itu lanjutnya, melaksanakan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi program percepatan penurunan prevalensi balita stunting, AKI dan AKB di Kabupaten Sikka tahun 2021.

Lebih lanjut Roni Laja menjelaskan, jumlah kematian ibu tahun 2021 sampai akhir September 2021 sebanyak 5 orang, sedangkan kematian bayi sebanyak 28 orang. Tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi dan prevalensi stunting ini lanjutnya, perlu dilakukan kolaborasi dan integrasi program kegiatan di lintas sektor, lintas organisasi, pemangku kepentingan dan seluruh komponen masyarakat.
Terkait prioritas wilayah untuk tahun 2022, Roni Laja menerangkan bahwa ada 35 desa yang menjadi prioritas namun mempertimbangkan situasi keuangan daerah, maka pembiayaan untuk penanganan stunting diutamakan menggunakan dana desa yang berasal dari APBN sehingga target cakupan akan menjangkau seluruh desa di Kabupaten Sikka, tuturnya.

Diakhir laporannya, pria asal Ngada ini menyampaikan, apresiasi dari Pemerintah Provinsi NTT kepada Pemerintah Kabupaten Sikka yang telah bekerja keras dalam pelaksanaan aksi konvergensi penanggulangan stunting dan mendapat predikat baik dengan peringkat ke-6 atau mencapai 10 besar dari 21 Kabupaten/Kota se Provinsi NTT. *(FD-GN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here