Tak Temui Kesepakatan, Mediasi Kedua Gagal

0
Gambar Ilustrasi Gagal Nikah

Maumere,GaharuNews.com – Kasus pemutusan hubungan pertunanganan secara sepihak di Sikka, yang sempat heboh diperbincangkan kini telah memasuki mediasi tahap kedua.

Dalam tahapan ini proses yang dilakukan pun tidak mencapai kesepakatan alias gagal.

Pihak tergugat melalui kuasa hukumnya, Anton Stef kepada media usai mediasi, Senin (01/11/2021), di Pengadilan Negeri Maumere menyampaikan bahwa pihaknya tidak bisa menjelaskan materinya, karena mediasi ini dilakukan secara tertutup, namun proses mediasi yang dilakukan tidak berhasil atau gagal.

Gagalnya mediasi ini, kata Anton Stef dikarenakan pihak penggugat tidak mau berdamai dan memilih untuk tetap dengan tuntutannya.

Dengan demikian lanjutnya menjelaskan, ketika proses mediasi kedua ini tidak berhasil, maka proses selanjutnya adalah dengan membaca gugatan.

“Jadi nanti mediator menyerahkan hasil laporan ini ke Majelis lalu Majelis akan menentukan hari sidangnya,” ujar Anton Stef.

Lalu kita dipanggil untuk baca gugatan dari pihak penggugat setelah itu baru jawaban dari pihak tergugat lanjutnya nanti akan disertai dengan gugat rekonvensi (gugatan balik) dari pihak tergugat, kata Anton Stef.

Sementara Penggugat satu, Boy Bogar ketika dikonfirmasi media dikediamannya menyampaikan bahwa dalam proses mediasi kedua ini tidak dihadiri tergugat tiga, sama seperti pada proses mediasi pertama. Disinyalir tergugat tiga di diagnosa terkena covid-19.

Bogar menyatakan bahwa pihaknya mau berdamai, tetapi hanya karena tergugat satu tidak menunjukan itikad baik terhadap permintaan penggugat satu, maka proses mediasi tersebut tidak menemui kata sepakat.

“Bagi saya, bukan saya yang tidak mau berdamai. Sesungguhnya saya sudah buka dari mediasi awal itu. saya sudah buka dengan kata-kata saya. saya mau baik-baik, pada saat masuk minta juga dengan baik-baik ketika mau berpisah juga kita dengan baik-baik. Itulah di ruangan mediasi di pengadilan yang saya harapkan, tetapi yang saya harapkan itu tidak terjawab,” ungkap Bogar.

Ia menambahkan, jika dari pihak kuasa hukum maupun para tergugat mengatakan bahwa saya tidak mau berdamai, itu sangat keliru.

Boy Bogar menyampaikan bahwa gugatan yang ada di pihak tergugat semuanya sudah jelas. Sehingga dia hanya membutuhkan jawaban dari pihak tergugat seperti apa, katanya lagi.

Boy Bogar lalu mengingatkan, jangan lagi membalikkan persoalan. Menurutnya, antar cincinnya di rumah laki lalu dikatakan dicabut di rumah perempuan.

Faktanya bahwa cincin tersebut diantar langsung ke rumah laki oleh utusan keluarga bukan oleh delegasi sebelumnya, pungkas Boy Bogar.

Terhadap kasus ini, salah satu tokoh budaya sekaligus tokoh adat Sikka, Oskar Parera Mandalangi, ikut menanggapinya.

Ia menyatakan bahwa jika pihak perempuan tidak mau melanjutkan hubungan tersebut sampai pada perkawinan maka, pihak perempuan harus mengembalikan semua belis yang diserahkan oleh laki-laki.

OSKAR MANDALANGI PARERA – Tokoh Adat Senior Kabupaten Sikka

“Kalau Du’a Pari Depo La’i Walong, Beli Walong Ngawun ata La’i wai ha, Jara, Bala, Lipa, dll (kembali lagi orang punya barang sekalian, baik itu Kuda, Emas, Sarung, dll) yang pernah dibawa oleh pihak laki-laki,” ungkap Oskar Mandalangi, Minggu (24/10/2021) lalu.

Soal proses pengembalian barang tersebut Ia menjelaskan, biasanya kalau sudah di pengadilan nanti juga dikembalikan ke Lembaga Adat untuk diputuskan baru dikembalikan ke pengadilan untuk disahkan.

Untuk pengeluaran di pihak perempuan pada saat pengantaran belis oleh pihak laki-laki, Oskar Mandalangi menjelaskan bahwa, pengeluaran itu sudah menjadi resiko dan selesai kalau pihak perempuan yang membatalkan hubungan tersebut.

Ia lanjut mengatakan bahwa fungsi lembaga adat itu sah. Oleh karena itu baik pihak laki maupun perempuan harus datang ke Lembaga Adat.

Lembaga Adat akan putuskan dan akan dikembalikan ke pengadilan untuk disahkan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, maka keputusannya sah, tegasnya. (FD-GN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here