Selidiki Dalih SP3, Orang Tua Korban Pemerkosaan Anak Dibawah Umur Minta Polres TTU Profesional

0

 

Kefamenanu, Gaharunews.com,- Emirensiana Tefa (41), ibu dari korban Pencabulan dan Pemerkosaan di Kabupaten Timor Tengah Utara ( TTU), meminta agar kepolisian Polres TTU tidak menghentikan proses penyelidikan dan penyidikan alias meng-SP3 kasus yang menimpa anaknya MKB, yang masih di bawah umur. Demikian disampaikan Emerinsiana Tefa kepada tim media ini melalui pesan sambungan telepon, Rabu (23,/2/22).

Menurut Emerinsiana, penyelidikan terhadap kasus ini tidak seharusnya dihentikan karena berdasarkan hasil visum dari pihak RSUD. Kefamenanu yang dikawal langsung oleh pihak Polres TTU, menunjukan bahwa terjadi luka robek lama pada jalan lahir ( kemaluan) korban.

Ia menyampaikan bahwa dirinya telah melaporkan kasus ini ke Polres TTU dengan Laporan Polisi Nomor. LP/B/231/2021/NTT/Res, Tanggal 22 Oktober 2021. Kemudian oleh Penyidik PPA Reskrim Polres TTU, korban telah diambil keterangannya dan di BAP sebanyak dua kali yakni pada tanggal 27 Oktober 2021 dan tanggal 25 November 2021.

Ia juga menjelaskan bahwa dirinya sudah mendapat Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dari penyidik polres TTU, tertanggal 15 November 2021 yang menginformasikan bahwa laporannya telah diterima dan telah ditunjuk penyidik yang akan melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan alat bukti yang mendukung / membuat terang tindak pidana yang dilaporkan.

Sayangnya, lanjut Emerensiana, berdasarkan informasi dari Penyidik PPA Reskrim Polres TTU, Bripka Siska Karuniawati, yang ia temui tanggal 8 Januari 2022 lalu, diberitahukan bahwa penyelidikan kasus pemerkosaan atas anaknya yang diduga dilakukan oleh MN akan dihentikan karena ada dugaan keterlibatan pelaku lain dan orangnya telah meninggal dunia.

Sementara itu, menurut Emirensiana Tefa, fakta peristiwa sebagaimana keterangan korban dalam pemeriksaan, tidak ada pelaku lain. ” Hanya MN pelaku peristiwa pemerkosaan yang terjadi pada bulan Mei 2021″ tegasnya.

Menanggapi hal ini Emerinsiana telah bersurat ke Kapolres TTU meminta agar penyelidikan kasus ini tidak dihentikan dan meminta SP2HP terkait kasus ini. Dalam suratnya dengan Nomor Khusus/II tertanggal 19 Februari 2022, ia juga menjelaskan bahwa dalam berita acara pemeriksaan (BAP), penyidik tidak mencantumkan seluruh keterangan peristiwa yang disampaikan korban.

“Dalam dokumen BAP yang tercatat hanya keterangan korban atas peristiwa pencabulan yang terjadi pada bulan April dan September 2021, sementara peristiwa pemerkosaan pada bulan Mei 2021 dan peristiwa pencabulan pada bulan Juni, Juli, Agustus 2021 tidak ada dalam BAP,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa, anaknya (korban.red) tidak pernah memberikan keterangan bersetubuh dengan RAM, sebagaimana yang dituliskan Penyidik PPA Reskrim Polres TTU dalam BAP.

Emerensiana juga menuturkan, MN sebelumnya telah melakukan tindakan percobaan pemerkosaan terhadap anaknya MKB pada tanggal 7 dan 28 April 2021 . Selanjutnya pada Mei 202, MN sengaja memanggil korban untuk menemuinya dan menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan pemerkosaan. Tak hanya itu, MN juga melakukan tindakan pencabulan pada MKB dengan meremas payudara korban dan memperlihatkan penisnya pada korban di beberapa waktu yang berbeda yakni dari bulan Juni hingga September 2021.

Menurut Emerensiana, hal tersebut sudah diakui terlapor MN saat aksinya dipergoki atau diketahui nenek korban pada 21 Oktober 2021 malam saat akan melakukan aksinya lagi. Bahkan terlapor MN, melalui iparnya AA pada tanggal 23 Oktober 2021 malam setelah peristiwa tersebut dilaporkan ke Polres TTU, datang menemuinya bersama nenek, kakek dan korban bersama anggota keluarga lainnya, meminta agar keluarga korban menarik kembali laporannya dan mengurus peristiwa itu secara kekeluargaan.

Keluarga terlapor juga berjanji akan memberikan 2 ekor sapi sebagai bayar denda atas perbuatan MN. Namun, keluarga korban menolak dan menyatakan bahwa kasus tersebut sudah ditangani oleh polisi dan diikuti saja prosesnya.

Selanjutnya, dalam suratnya ke Kapolres TTU, Emirensiana Tefa mengungkapkan bahwa ia merasa khawatir karena kalau kasus ini dihentikan, pelaku dan keluarganya mengancam akan melapor balik dirinya dan keluarga ke polisi.

“Pada tanggal 12 Januari 2022 jam 9 malam, RA, ipar dari terlapor mendatangi kakek dan nenek korban di rumahnya, dan menyampaikan bahwa terlapor dan keluarga besarnya akan lapor balik korban dan keluarga ke polisi, bila sampai dengan dua bulan kasus ini tidak selesai,” bebernya.

Untuk itu berdasarkan ketentuan pasal 39 ayat (1) Peraturan Kapolri Nomor 14 tahun 2011, tentang kode etik perilaku Kepolisian RI tentang kewajiban Penyidik Memberikan SP2HP kepada Pelapor baik diminta maupun tidak diminta sebagaimana diatur dalam pasal 40 ayat(1) Perkapolri No 14 tahun 2011 tentang kode etik profesi polri yang memuat tentang pokok perkara, tindakan penyidikan yang telah dilaksanakan dan hasilnya, masalah kendala yang dihadapi dalam penyidikan dan rencana tindak lanjutnya, maka Emirensiana Tefa selaku pelapor dan ibu korban meminta Kapolres TTU cq penyidik PPA Reskrim Polres TTU yang menangani perkara ini, untuk tidak menghentikan penyelidikan kasus ini dan memberikan SP2HP kepadanya. (Aries Usboko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here