RENTETAN KEMATIAN DAN CITRA NEGATIF FASKES

0

Oleh : Arifin Lete Betty
Orang mati itu biasa dan dimana-manapun ada orang mati. Jika kita mati di Rumah Sakit (faskes), itu namanya kita berjuang mempertahankan hidup sampai titik darah penghabisan, dan itu cerdas ; tapi kalau kita berdiam di rumah dalam keadaan sakit lalu kemudian mati, itu namanya mati konyol.
Melihat rentetan kematian yang saya amati kira-kira sejak juli hingga agustus hari ini dan terlampau amat banyak serta tidak lazim, jujur saya melihat ini menjurus ke fenomena mati konyol. Memang saya tidak mendatanya, namun pernyataan saya ini juga belum pernah dibantah dalam beberapa kali obrolan ringan. Malah kelihatannya banyak yang sependapat dengan saya.
Mereka mati disaat virus corona lagi menggila ; Namun prosentase kematian paling besar tercatat bukan karena corona.
Jadi ada dua kemungkinan yang bisa saja menjadi penyebab, yakni 1).bisa saja mereka mati karena covid tapi tidak terdeteksi karena belum pernah di-swab, atau yang ke 2).mereka mati karena penyakit lain, tapi tidak berobat ke Rumah Sakit karena takut tertular covid, takut dengan issu Rumah Sakit meng-covidkan orang, takut dengan beredarnya issu keterbatasan oksigen, takut kelaparan di ruang isolasi, takut kalau meninggal nanti tidak disemayamkan di rumah dan 1001 ketakutan lain sebagai dampak covid.
Nah, mencermati riwayat-riwayat sakit melalui cerita-cerita di rumah duka, saya menemukan fakta bahwa memang sebagian besar dari mereka yang mati hari ini, lebih memilih tidak ke Rumah Sakit karena hal-hal diatas.

Pemerintah ‘slow respon”
Entah kita berapa orang yang menganggap fenomena kematian beruntun ini adalah sesuatu yang aneh ; namun jujur untuk kalangan pemerintah, saya coba menelusuri lewat media mengenai respon pemerintah tapi ternyata tidak ada. Jangankan kebijakan, bahkan untuk sekedar meng-opinikan fenomena inipun saya belum pernah baca.
Kita tahu saat ini Pemerintah lagi sibuk dengan perang melawan corona, namun kita juga lihat bahwa tidak selamanya 1X24 jam setiap hari itu hanya dipakai untuk pikir corona ; Jika masih sempat memikirkan masalah lain, maka tolong jugalah pikirkan masalah ini dan carikan solusi penyelesaiannya, apalagi ini berhubungan dengan kematian warga/ rakyat si pemilik kedaulatan di Republik ini ; Ini bahaya Pak..! kalau dibiarkan, sebab kalau sampai warga mati semua nanti siapa lagi yang memilih kita lagi untuk jadi Presiden, untuk jadi Gubernur, jadi Bupati, jadi Kepala Desa bahkan jadi RT.
Saya kira mencitrakan kembali Rumah Sakit dan faskes-faskes sebagai pusat pelayanan Kesehatan yang bisa menyembuhkan penyakit harus dikampanyekan kembali akibat dari stigma-stigma negatif terkait covid. Manajemen pelayanan pasien covid dan non covid yang transparan dan akuntabel, serta perilaku pelayanan petugas harus mampu meyakinkan kembali masyarakat agar mereka tahu bahwa derajat kesembuhan di Rumah Sakit masih lebih baik dari kekuatan dukun, obat kampung dan bahkan tim doa.
Pemerintahpun harus menggandeng media-media untuk satukan pemahaman agar framing pemberitaanpun jangan terlalu doyan dengan paham “bad news is good news” karena saat ini kita membutuhkan good news untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap faskes yang mulai tergerus berbagai pemberitaan negatif terkait covid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here