Petugas Sarankan Isoman Dirumah, Warga Tolak Dikarantina Terpusat

0
Petronela Pona dan Wilfridus Nong Lusi

MAUMERE-GAHARU NEWS.com – Video pengancaman warga Dusun Eha, Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng, yang sempat viral beberapa waktu lalu kini sedang dilakukan penyelidikan oleh Polres Sikka.
Peristiwa itu terjadi lantaran beberapa anggota keluarga dari 4 orang warga yang terkonfirmasi positif rapid test antigen menolak dibawa petugas untuk menjalani karantina terpusat, karena sudah disarankan oleh petugas dan Babinsa bahwa boleh isolasi mandiri dirumah.
Dari informasi yang diperoleh media, peristiwa tersebut bermula dari hasil rapid test terhadap 9 warga yang ditracking kontak erat dengan Almarhumah Maria Sabarita Sarti, pasien dari Puskesmas Habibola, usai melahirkan anak dengan bayi meninggal dalam kandungan lalu dirujuk ke RSUD TC. Hillers Maumere pada tanggal 05 Agustus 2021 tengah malam.
Almarhumah Maria Sabarita Sarti dirujuk lantaran menderita sesak nafas akibat asma dan gangguan jantung yang ia alami sejak kecil. Namun sayang, Almarhumah Maria Sabarita Sarti akhirnya meninggal di hari itu juga setelah beberapa jam berada di ruang isolasi covid-19. Almarhumah pun kemudian dimakamkan di pekuburan covid-19.
Dari rapid tes antigen pada tanggal 09 Agustus 2021 terhadap 9 warga berdasarkan tracking kontak erat dengan Almarhum Maria Sabarita Sarti, dua warga dinyatakan positif, sedangkan 7 warga lainnya termasuk suami almarhumah dinyatakan negatif. Dua warga yang dinyatakan positif tersebut yakni: Helena Hieng (53) yang membantu merawat almarhumah dan Maria Vermiana Kurek, salah seorang kader Posyandu.
Wilfridus Nong Lusi, anak dari Helena Hieng kepada media, Kamis (02/09/2021), menuturkan, lantaran kondisi mamanya baik-baik saja, maka petugas medis dari Puskesmas Habibola dan Babinsa setempat menyampaikan kepada mamanya bahwa bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Demikian juga terhadap Mariana Vermina Kurek disarankan untuk isolasi mandiri di rumah.
Selanjutnya pada tanggal 14 Agustus 2020 dilakukan rapid tes lagi kepada 16 warga. Hasilnya, dua warga dinyatakan positif. Yakni: Cosmas D. Segon (67) dan seorang warga yang juga bernama Helena Hieng (55). Oleh petugas, keduanya juga disarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.
Menurut warga setempat, Petronela Pona, ada dua warga yang memiliki nama yang sama yakni Helena Hieng. Dan dua duanya juga dinyatakan positif rapid test antigen. “Memang dua-duanya namanya sama. Dan dua-duanya juga positif rapid test. Mereka juga disarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah,” terangnya.
Ada kejadian menarik selama proses rapid test pada tanggal 14 Agustus 2021 ini. Dimana, petugas menyampaikan hasil positif rapid test tidak langsung kepada orang yang bersangkutan, tetapi hanya menyebut nomor urut berdasarkan urutan rapid test. Itupun disampaikan setelah warga mendesak.
“Setelah selesai rapid, petugas tidak sampaikan langsung kepada warga yang bersangkutan. Karena itu, warga mulai gelisah dan mendesak supaya petugas terbuka siapa yang positif siapa yang negatif. Nanti saat petugas sudah berada di dalam mobil ambulance dan hendak pulang baru salah seorang petugas pakai teriak bilang yang positif itu nomor 1 dan nomor 3. Lalu warga mulai baku tanya, siapa yang nomor 1 dan siapa yang nomor 3,” jelas Petronela Pona.
Lebih lanjut, Petronela Pona menambahkan, kejadian lain yakni 9 warga yang di rapid pada tanggal 9 Agustus 2021 menolak untuk meminum obat yang dibagikan oleh aparat desa setempat pada tanggal 13 Agustus 2021.
Pasalnya, empat jenis obat tersebut bukan dibagikan oleh petugas medis, tetapi oleh aparat desa. “Warga heran, kenapa yang bagi obat itu bukan petugas medis, tetapi aparat desa. Mungkin karena merasa kuatir, warga lalu tidak meminum obat yang dibagikan itu,” jelas Petronela.
Kemudian ada juga salah seorang warga dari 9 warga yang mendapat obat tersebut mempertanyakan, kenapa bukan petugas kesehatan yang bagikan tetapi aparat desa.
“Kami yang lain yang hasil rapid tes negatif juga dapat pembagian obat. Kami heran, apalagi yang bagi obat ini aparat desa bukan petugas medis, jelas kami kuatir. Kalau petugas medis kan pasti bisa jelaskan obat ini untuk apa. Maka itu kami tolak minum obat,” ucap warga yang tidak mau namanya ditulis. *(FD-GN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here