MENGGUGAT AKAL SEHAT, TENTANG MAL PRAKTEK DI ATAS HUTAN BOWOSIE.

0

Oleh : Syukur Abdulah *)

GaharuNews – Labuan Bajo, MEMATIKAN pohon hidup di dalam hutan lindung Bowosie lalu mencoba kembali menghidupkan benih – benih pohon kayu, yang ada dalam kemasan, yang mungkin bisa saja tumbuh dan bisa tidak karena bibitnya mandul. Yah, bisa saja terjadi demikian.

Apalagi, bobot bibit yang ditanam ketika masih dalam kemasan otak tidak sama dengan yang tumbuh liar secara alami di hutan. Persis yang tahu keadaan itu adalah masyarakat yang hidup sekeliling hutan Bowosie. Atas dasar cinta dan pentingnya menjaga habitus kehidupan bagi orang Manggarai begitu kental, menjaga hutan sama pentingnya dengan menjaga kehidupan.

Syukur Abdullah

“Neka poka puar” ( jangan menebang hutan ) sebab, dimana ada hutan di sana ada mata air, dengan sendirinya di sana pasti ada kehidupan. Nenek moyang orang Manggarai sudah mengajarkan kisah itu dalam setiap dongeng disaat mengantarkan tidur anaknya.

Atas dasar kecintaan begitu tinggi, kalau sudah cinta itu di buang jangan harap lagi kehidupan itu akan ada. Jadi, pisau bedah manapun ketika dipakai untuk mematikan pohon kayu diatas hutan Bowosie, tak akan mampu diterima akal sehat. Dan pasti tumpul buat orang Manggarai.

Narasi, yang keluar dari dalam busa mulut raja rimba saat ini, bagaimana membelokkan logika akal tumpul itu, pertanggungjawaban terhadap seluruh bentuk aktifitas yang sudah terlanjur basah. Membasahi alam Bowosie disaat musim kering menyengat.

Inilah yang orang Yunani sering sebut, “FALLACIS” ( Kesesatan berpikir ) tidak pikir – pikir dahulu dampak dan resiko dari / dan sebuah kebijakkan yang tidak berpihak kepada kepentingan alam semesta dan seisinya, malah yang terjadi terus menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagai akibat yang ditimbulkannya.

Bentuk mal praktek tentang pengelolaan hutan Bowosie sudah terjadi di Kabupaten Manggarai Barat. Secara emperis hutan 30 hektar itu termasuk rumput yang hidup di dalamnya, menyisahkan warna tanah yang coklat meratap langit, dan bauh mesin bekas cakar alat – alat berat mencabik akar kayu kedasar tanah.

Mungkin cerita hutan Bowosie ini sudah usang buat orang lain akan tetapi, bagi penulis membuat opini dan artikel tentang hutan Bowosie sangat penting. Itulah gejolak perasaan hati yang selama ini bertanya kenapa, selalu ada regulasi dan kebijakkan yang mengganggu hutan.

Bagaimana dengan Pemda Mabar, memberikan sebuah sikap politik itu sangat penting, terhadap hutan dan savana kita yang sudah di operasi semacam mal praktek. Salah bedah, dan obat yang diberikan kadarluasa juga.

“Sambil kita menikmati TEKO sedikit air hangat” agar tidak keselek, harapannya supaya PEMPROV. NTT mau membantu juga sebagai daerah dan rakyat yang ada di wilayah kekuasaannya. Minimal dari berakhirnya PPKM di Pulau Semau, menikmati jagung titi sedikit kacang tanah, disulam teh hangat pasti asik untuk menyuarakan gemuruh tanah dan hutan yang mulai roboh akhir – akhir ini.

Di jakarta, mudah -mudahan bisa mendengar jeritan suara hati dari timur. Walaupun sedang di atas meja kebahagian “KFC” rasa ayam panggang bakar, sedikit bumbu eropa menyempurnakan sedap rasa yang menggelora. Suara yang benar – benar sampai tidak sebatas kintal istana. *)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here