LPA Meminta Penyidik Polres Rote Ndao Segera Menahan Pelaku Kekerasan Seksual Di Dusun Maku Desa Oematamboli

0
Ketua Lembaga Perlindungan Anak/ LPA NTT, Veronika Ata, SH, M. Hum

Rote Ndao, Gaharu News.Com – Kekerasan Seksual terhadap anak kembali terjadi Di Rote Ndao, Menurut kapolres Rote Ndao, AKBP Felli Hermanto,SIK, M.Si, melalui Kasubag humas polres Rote Ndao, AIPTU Anam Nurcahyo, S.I.P. mengatakan bahwa  kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Rote selatan dalam Laporan Polisi Nomor : LP/ 14/ X/ 2020 / NTT / Res Rnd / Sek Rotsel, tgl 08 Oktober 2020, dan penyidik telah membuat Visum Et Repertum dan memeriksa pelapor, saksi termasuk korban. dan Kasus ini telah di limpahkan Ke Satuan Reskrim Polres Rote Ndao

Sedangkan Kronologis Kejadian adalah:  Korban YNM, 16 Tahun, awalnya diasuh dan dibesarkan seperi anak kandung sendiri, Sejak  berumur 5 tahun  oleh Terlapor  (SF) bersama istrinya yg bernama ANM di dusun Maku desa Oematamboli kec Lobalain, Kab. Rote Ndao.

Dan ketika korban kelas 8 (SMP kelas 2) terlapor  mulai melakukan perbuatan bejatnya, sekitar awal bulan September 2019,

Awalnya korban ditarik paksa kedalam kamar selanjutnya terlapor melakukan pemerkosaan terhadap korban dan

Korban tidak berani melawan karena diancam untuk dipukul dan diancam untuk tidak memberitahukan kepada siapa – siapa, ucap kabag humas.

Selanjutnya setiap istri terlapor keluar rumah, korban selalu diperkosa dan terus melakukan perbuatan bejatnya.

Kemudian sekitar pada bulan Juli 2020 korban sudah tidak mendapatkan menstruasi lagi dan terjadi perubahan fisik, sampai pada  hari Rabu tgl 23 September 2020 sekitar jam 09.30 wita terlapor kembali melakukan pemerkosaan.

karena korban merasa sudah tidak tahan akan perbuatan terlapor, kemudian pada hari Sabtu tgl 26 September 2020 sekitar jam 08.00 wita dengan alasan kesekolah lalu korban kabur dari rumah dan pergi bekerja di baa.

Karena ada laporan bahwa korban lari dari rumah, maka Kades Oematamboli SIMSONI BALUKH menjemput korban pulang ke Lole.

Kemudian pada tanggal 01 Oktober 2020 dilakukan urusan keluarga kemudian Terlapor mengakui perbuatannya dihadapan saksi dan Pemerintah Desa Oematamboli, dan terlapor membayar denda Rp. 5.000.000,- setelah itu korban dibawa kembali ke Keka oleh bpk EMN

Kemudian pada hari  Selasa tgl 06 Oktober 2020, korban memeriksakan kehamilan di Puskesmas Oele dan  hasil dinyatakan hamil dgn usia kandungan 18 minggu, dan atas kejadian tersebut korban melaporkan ke pihak kepolisian untuk proses selanjutnya.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak/ LPA NTT, Veronika Ata, SH, M. Hum, Ketika dihubungi media ini melalui Telpon Seluler Meminta Penyidik Polres Rote Ndao segera Menahan Pelaku Kekerasan sexual terhadap anak apalagi dilakukan oleh orang terdekat yakni  paman sampai mengakibatkan  kehamilan.

Ini merupakan tindakan kejahatan dan  bejat. Apa lagi dari sejarahnya,  korban merupakan anak yatim Piatu dan dibesarkan oleh pelaku yang mestinya dianggap sebagai anaknya sendiri dan patut dilindungi. Bukan sebaliknya dijadikan   obyek sexual dan pelampiasan hawa napsu, ujar Ketua LPA yang biasa di sapa Tory ini.

Menurut Ketua LPA yang selalu getol melindungi hak hak anak ini meminta Kasus  ini harus diproses secara hukum, dan tidak boleh didamaikan atau didiamkan dengan alasan karena pelaku adalah keluarga atau merasa aib yang memalukan.   Karena itu perlu menjadi perhatian bersama dan harus dikawal sampai Tuntas.

Ketika kita diam maka pada saat yang sama kita mendukung kejahatan sexual terhadap anak perempuan. Kasus kekerasan sexual ini kian hari kian marak terjadi di NTT termasuk di Kab. Rote Ndao.

Sebenarnya kita memiliki  UU no. 35/2014  tentang Perlindungan Anak yang dirubah dengan Undang -Undang RI No 17 Tahun 2016 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang – Undang No 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua UU Perlindungan Anak. Dalam  pasal 81 (1) mengatur “ Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah), ucap beliau dengan nada marah dari balik telepon.**JQ [gn/tim]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here