In memoriam Peter Apollonius Rohi Sang Jurnalis investigasi

2
Alm.Peter Apollonius Rohi (Sumber Foto FB Pribadi)
Alm.Peter Apollonius Rohi (Sumber Foto FB Pribadi)

Kupang,Gaharu NewsKabar duka tentang Kematian Peter A. Rohi datang dari cuitan Johannes Rohi alias Jojo Rohi di laman Facebook nya pada 10 juni 2020 pukul 07.48 “Goodbye papa, RKS – Surabaya, 10 Juni 2020, 6:45”

Wartawan senior lulusan Stikosa – AWS itu yang lahir di Nusa Tenggara Timur 14 November 1942 silam mulai menekuni jurnalistik sejak Tahun 1970 setelah mengundurkan diri dari kesatuannya di Batalyon Tank Amfibi

Opa Peter (sapaan Peter Apollonius Rohi) malang melintang di media massa.  Mulai dari Sinar Harapan (Jakarta), kemudian Pikiran Rakyat (Bandung), Memorandum (Surabaya), Suara Indonesia (Malang), Jayakarta (Jakarta), Surya (Surabaya), dan  Suara Pembaruan (Surabaya)

Dalam melakukan liputan, opa Peter lebih memilih liputan jenis pengamatan dan penggalian masalah di lapangan, bukan pernyataan (statement). Ia juga menggali masalah ke suatu tempat dan secara rinci merekam kejadian tersebut sehingga membuahkan laporan yang menarik. “Berita yang baik, kalau dia menjadi perhatian dan memunculkan fakta baru di masyarakat,” kata opa Peter  dalam sebuah wawancara

Saat menjadi wartawan freelance tahun 1990 pernah meliput untuk Jawa Pos tentang orang Jepang sisa Perang Dunia II yang hidup di hutan Morotai, sebuah pulau di wilayah kepulauan Maluku Utara. Masih dalam media yang sama, Peter pernah membuat penemuan laporan meriam kuno peninggalan Babar di Maluku Tenggara.

Dalam laporan itu Peter menyebutkan, meriam tersebut peninggalan sebuah kapal Inggris yang terdampar di Babar. Kapal bernama Lady Nelson itu bersandar di pulau tersebut untuk transit sebelum menuju Australia. Pada saat transit itu ada awak kapal (ABK) Lady Nelson melakukan hubungan dengan wanita setempat. Karena marah, kapal tersebut dibakar penduduk dan semua penumpangnya tewas kecuali dua penumpang yang melarikan diri (satu di antaranya nak- anak).

Akibat pemberitaan ini, Peter sempat dikirimi buku dari Australia yang memuat tentang ekspedisi kapal Lady Nelson. Menurut Peter, kapal tersebut adalah sebuah ekspedisi penting karena memuat sejumlah tenaga ahli, seperti dokter dari Inggris. Dari laporan kapal Lady Nelson itu juga terungkap, pada masa lalu, pemerintah Australia sangat tergantung kepada Indonesia. Pulau-pulau kecil di wilayah kepulauan Maluku Tenggara (dekat pulau Timor –dalam wilayah NTT dan Timor Leste) amat membantu kapal-kapal Australia dan Inggris.

Opa Peter juga pernah membuat laporan tentang profil seorang pecinta lingkungan yang mengelola seluruh pulau Kisar. Akibat laporan ini, pemerintahan memberikan penghargaan Kalpataru kepada penduduk Kisar.

Pada tahun 1978, saat awal bergabung dengan Sinar Harapan, opa peter  juga membuat laporan tentang kelaparan massal di pulau Sumba. Saat itu penduduk satu kecamatan mengalami wabah kelaparan karena hama tikus yang menyerang padi mereka. Akibatnya sebagian penduduk mati dan dirawat dirumah sakit “Bantuan terlambat datang, karena lokasinya terpencil” kata opa Peter. Untuk mencapai lokasi tersebut opa peter harus naik kuda selama tiga hari. Akibat pemberitaan tersebut, Presiden Soeharto datang ke Sumba dengan membawa bantuan.

Opa Peter pernah juga diberi kepercayaan mengelola

Alm.Peter Apollonius Rohi bersama Isteri almarhumah Oma Welmince Giri (Sumber Foto FB Pribadi)

(SI), sebuah koran pagi yang terbit di Malang. Di harian ini, opa Peter sebagai redaktur pelaksana. Di tangan Opa Peter, koran ini sempat menjadi koran terbesar di Jawa Timur dengan tiras 40 ribu eksemplar. Posisi koran ini menjadi koran kelas dua setelah harian Surabaya Post. Harian Jawa Pos sendiri saat itu hanya bertiras 6 ribu eksemplar.

Pada saat di SI, opa peter sempat dikirimi sebuah kepala manusia. Paket kepala manusia ini diduga dikirim oleh kelompok misterius yang menyokong pembunuhan misterius (petrus) terhadap sejumlah preman dan gali.

Waktu itui korban petrus bukan hanya gali, tapi juga warga sipil, seperti para guru. “Semua koresponden saya perintahkan membuat berita setiap korban petrus,” kata opa Peter. Akibatnya, hampir tiap hari, koran SI dihiasi berita korban kekerasan petrus. Belakangan, pemerintah mengakui mereka berada di balik operasi petrus.

Di SI, opa Peter hanya empat tahun dan tahun 1985 ia ditarik ke Surabaya sebagai koresponden. Konon, penarikan itu atas perintah Aristides Katoppo, pemimpin redaksi SH. Tetapi di Surabaya ia hanya beberapa bulan karena ditarik SH ke Jakarta menjadi asisten redaktur politik dan nasional sampai koran ini dibredel pemerintah Soeharto tahun 1986.

Pada tahun 1988 pemilik dan wartawan SH mendirikan harian Suara Pembaharuan dan Peter ikut bergabung di koran tersebut. Tetapi ini hanya 8 bulan karena ia kemudian diserahi mengelola Jayakarta, sebuah koran milik Kodam Jaya yang dimodali Suara Pembaharuan. Sayang nasib koran ini hanya berumur pendek karena terus merugi.

Opa Peter sempat bergabung dengan harian Surya sebagai news editor. Tidak lama kemudian pada 1990 mengundurkan diri dan menjadi wartawan freelance untuk berbagai penerbitan. Setelah gerah di Jakarta, pada 1993, Opa Peter balik ke Surabaya menjadi wartawan freelance beberapa penerbitan seperti harian Surabaya Post, Surya, dan Jawa Pos.

Pada tahun 1994-1995, Peter dikontrak sebagai penulis kolom “Selamat Pagi Surabaya” harian Memorandum, milik Agil H Ali. Pada tahun 1996, oleh sejumlah kawan-kawannya di Dewan Kesenian Surabaya (DKS), tulisannya itu diterbitkan dalam bentuk buku. “Kabar yang saya terima, berkat kolom tersebut, tiras Memorandum mengalami kenaikan,” kata opa Peter. Tapi kontrak ini tak diperpanjang oleh Agil.

Ada dugaan “PHK” tersebut akibatnya tulisan Peter dinilai terlalu berani dan membuat gerah Gubernur Jawa Timur, H M. Basofi Sudirman yang waktu itu memberi angin Latief Pujosakti. Ketua PDI Jawa Timur versi Surjadi. Sedangkan tulisan Peter dianggap memberi angin Sucipto, Ketua PDI Jatim versi Megawati yang menjadi seteru Latief. “Saya tak membela siapa-siapa. Yang saya bela adalah yang lemah.” kata Peter. Saat itu, pihak yang disebut lemah adalah PDI kubu Megawati dan yang kuat adalah PDI kubu Surjadi.

sumber foto FB Alm. Peter A. Rohi

Mei 1998, rezim Soeharto jatuh dan tampuk pemerintahan dipegang B.J. Habibie. Oleh rezim baru ini, kebebasan pers diperlonggar dan ijin pendirian koran dipermudah. Dengan semangat perubahan, Peter berangkat lagi ke Jakarta untuk ikut membidani sebuah koran harian baru bernama Suara Bangsa (SB). Harian ini didirikan dengan semangat untuk mengembalikan liputan besar, termasuk mengirim Peter A Rohi ke Timor Timur pada 1999 saat daerah pergolakan ini mengadakan jajak pendapat untuk menentukan pilihan otonomi (bergabung ke RI) atau merdeka. Dan opa peter adalah termasuk jurnalis Indonesia yang terakhir keluar dari Timor Timur setelah pengumuman Jajak pendapat dimana masyarakat Timor Timur memlilih untuk merdeka.

Semasa aktif menjadi jurnalis sebelum terkena penyakit stroke, suami oma Welmince Giri ini selalu memilih untuk turun langsung kelapangan melakukan infestigasi berbagai peliputan, meski dirinya pernah menjabat berbagai posisi strategis di media seperti, Redaktur, Redaktur Pelaksana hingga Pemimpin Redaksi, opa peter benar benar wartawan kaki bukan orang kantoran, beliau mengandalkan berita hasil investigasi sendiri dari data data yang didapat dilapangan bukan meminta berita, fotokopi atau cloning tulisan wartawan lainnya.

Dalam sebuah wawancara  Opa peter pernah  memberikan pesan kepada Para Wartawan Muda  “ ingat, wartawan bukan buruh, tapi intelektual. Pakailah otakmu. Banyak Baca, Analisisi, bergaul sebanyak Mungkin, cari sumber sebanyak banyaknya, jangan lekas percaya pada informasi apapun, cek dan ricek”

Menuliskan sepak terjang Opa Peter Apollonius Rohi dalam bidang jurnalistik tak mungkin secara singkat, bahkan bisa  dibukukan dalam bentuk serial, kabar terakhir yang didapat dari Postingan Enggebert Johannes rohi alias jojo rohi (anak Opa Peter) di media Facebook  bahwa Opa Peter dimakamkan dengan mengikuti Protokol Covid 19

“Papa harus menjalani pemakaman dengan protokol Covid-19 meski belum ada hasil negatif atau positif. Bila itu sudah ketentuan protokol, kami sekeluarga tentu akan mengikhlaskan, demi kebaikan bersama.

Saya yakin Papa pun akan lebih mengedepankan kepentingan orang banyak daripada kepentingan sendiri. Sesuai dengan protokol Covid-19, jenazah tidak disemayamkan di rumah duka, tapi langsung ke pemakaman, dan dilakukan hari ini juga.

Pemakaman bersifat private dan limited. Hanya keluarga inti yang diperkenankan. Kami anak-anak dari almarhum Peter A. Rohi sangat berterimakasih atas semua simpati, doa belasungkawa, dan supports dalam ragam cara. Kiranya Tuhan Maha Pengasih memberkati kita semua dengan damai sejahteraNya. Amin”.

Selamat Jalan Opa Peter, tulisan mu akan selalu abadi, Kiprah mu dalam dunia jurnalistik akan menjadi contoh bagi kami wartawan wartawan muda. (gn/p.a.a/dihimpun dari berbagai Sumber)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here