Upaya Efisiensi Logistik, Ombudsman NTT Lakukan Evaluasi Kinerja Operasional Di Pelabuhan Tenau

0

Kupang, Gaharunews.com,- Pelabuhan Tenau Kupang merupakan pelabuhan terbesar di NTT, difungsikan sebagai dermaga serbaguna yang melayani kapal barang, penumpang dan petikemas, fungsi lainnya adalah sebagai tempat penyimpanan barang, pemrosesan barang baik impor maupun ekspor. Untuk pelayanan kepanduan pelabuhan ini beroperasi 24 jam, dalam melayani pengangkutan petikemas domestik dan internasional (antar pulau).

Mengamati kinerja operasional angkutan petikemas di Pelabuhan Tenau Kupang yang bertujuan untuk mengetahui penilaian pelanggan, Kepala Ombudsman Republik Indonesia perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), Darius Beda Daton SH, menghadiri undangan rapat bersama Dinas Perhubungan Provinsi NTT dan semua  kepentingan terkait transportasi di ruang rapat Dinas Perhubungan Senin (21/2).

“Saya menyambut gembira inisiatif dinas perhubungan menggelar rapat dalam rangka evaluasi tarif angkutan peti kemas di kota Kupang ini karena masalah lama yang belum kunjung dikunjungi,” ungkap Daton.

Pada kesempatan tersebut ia  menyampaikan bahwa sebagai pengawas pelayanan publik, beberapa kali menerima komplain pengguna jasa pelabuhan terkait dengan biaya pengiriman barang dari pelabuhan ke gudang.

“Intinya, pengguna jasa mengeluhkan bahwa biaya peti kemas dari Surabaya ke pelabuhan tenau Kupang dan pelabuhan lain di NTT hampir sama dengan ongkos angkut dari pelabuhan ke gudang dalam kota,” tambah Daton.

Darius menjelaskan, Di Kota Kupang, peti kemas 20 feet yang mengangkut barang 20 ton dengan jarak tempuh 10 km bertarif Rp 4 juta. Mungkin saja ada yang lebih murah atau lebih mahal dari angka itu. 

“Sementara di Pulau Jawa dan Sulawesi biayanya jauh lebih murah. Semarang-Jogja dengan jarak tempuh 116 km, lama waktu perjalanan 5 jam 37 menit, bertarif hanya Rp 2.450 juta. Semarang-Cirebon dengan jarak tempuh 238 km dengan lama perjalanan 8 jam 26 menit bertarif Rp 3,8 juta,” katanya.

Dampaknya, terjadi disparitas harga barang yang tinggi antara wilayah barat dan timur sehingga subsidi tol laut oleh pemerintah melalui APBN setiap tahun seolah tidak terasa menekan disparitas margin harga tersebut. Harga telur ayam dan sembako tetap tinggi. Lantas, dimana soalnya sehingga disparitas harga tersebut tidak mampu ditekan? Apakah karena alasan klasik yang biasa terlontar yaitu soal penawaran dan permintaan atau ada hal lain yang terjadi di sana?,” Tanya Daton.

Dikatakan, Persoalan pola distribusi logistik, tarif/biaya logistik dari pelabuhan ke gudang harga, distributor barang dengan alasan tertentu, kapasitas pelabuhan peti kemas dll adalah beberapa hal yang harus diurai bersama seluruh pemangku kepentingan di daerah ini guna membantu masyarakat kecil dari ‘permainan’ barang yang bisa dilakukan sesuka hati dan kapan saja oleh segelintir orang,” terangnya.

Daton menjelaskan, hal ini sudah menyerupai kartel. Transportasi merupakan salah satu kelompok pengeluaran yang memberi andil inflasi di Provinsi NTT. Tercatat dalam 3 tahun terakhir dari tahun 2019 – 2021, kelompok pengeluaran barang-barang berharga tertinggi.

“Salah satu aspeknya adalah tingginya biaya angkut barang menggunakan peti kemas dari pelabuhan Tenau ke gudang dalam kota kupang atau luar kota kupang,” terangnya.

Karena itu evaluasi tarif angkutan peti kemas di kota Kupang perlu kita dukung bersama dan sangat perlu mungkin dilakukan, sebagai upaya negara hadir dalam soal ini sehingga minimal bisa menekan harga barang.

“Saya berterima kasih kepada Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT atas rapat bersama ini. NTT bisa,” tutupnya. (Aries Usboko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here