ANEH, SASARAN VAKSIN DI KAMPUNG TAPI TEMPAT PELAYANAN DI KOTA SOE

0

Oleh : Arifin Lete Betty
Tulisan ini dipicu oleh sebuah postingan Jadwal Vaksin Covid-19 yang diposting oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, Dr. Eirene Ate melalui akun facebooknya pada 24 Agustus malam.
Saya mencermati postingan itu dan Jujur, sampai detik saya mencoret tulisan ini, saya belum menemukan sebuah jawaban yang logis perihal penentuan lokasi pelayanan Vaksin Covid di Kabupaten TTS yang bagi saya aneh, dan entah argumen apa yang melatari keanehan itu.


Mengapa saya bilang aneh? Karena penentuan Tempat pelayanan vaksin, jaraknya terlalu jauh dari Kelompok sasaran yang mau divaksin, dan terkesan bahwa pelayanan vaksin bagi masyarakat yang jauh di Kecamatan-Kecamatan, memang disetting untuk berbondong-bondong datang ke Kota Soe untuk dapat pelayanan ; yakni di Puskesmas Kota (340 dosis), Klinik Polres TTS (1322 dosis), Kejaksaan Soe (202 dosis), Kodim 1621 TTS (1129), dan Aula Mutis (1100 dosis), atau dengan kata lain ada 4.093 dosis yang akan didistribusi didalam kota Soe.
Jika dibanding dengan jatah yang dikasih 3 Puskesmas diluar Kota Soe yakni Kolbano, Kapan dan Niki-Niki terlihat sangat diskriminatif yakni Kapan (267 dosis untuk Kapan dan Tobu), Niki-Niki (60 dosis), dan Kolbano (129 dosis untuk Nakes di Hoibeti, Sei, Kualin dan Kolbano), atau dengan kata lain hanya 456 dosis yang dikirim ke 3 Kecamatan.
Apakah ini namanya bukan bekin susah masyarakat?
Mengapa untuk mendapatkan vaksin mereka harus jauh-jauh dari Kampung ke Kota Soe? Berapa biaya transport yang mereka keluarkan? belum lagi biaya makan minum akibat antrian yang panjang di lokasi vaksin bahkan sebagaimana pengalaman beberapa waktu lalu, malah tercipta kerumunan baru saat mengantri vaksin yang tentunya rentan untuk menularkan covid.
Mengapa pelayanan dengan sasaran di Fatumnutu, Fatumnasi dan Binaus, yang juga dilayani oleh Nakes dari Fatumnutu, Fatumnasi dan Binaus malah dibikin di Klinik Polres TTS?
Mengapa bukannya 1322 dosis vaksin yang akan dipakai di Klinik Polres TTS itu yang didistribusi saja ke Puskesmas tersebut diatas agar selain jaraknya dekat dan mudah diakses oleh masyarakat, juga meminimalisir penumpukan massa yang mengantri untuk bikin cluster baru. Ini yang saya katakan aneh.
Sama juga halnya dengan sasaran Oenino, Tetaf, Oeekam dan Batuputih malah dilayani di Kodim 1621 Soe. Kan di 4 Puskesmas ini ada Dokter. Mengapa bukannya 1129 dosis vaksin didistribusi saja ke 4 Puskesmas ini untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat?
Sama halnya pula dengan sasaran Siso, Noebeba dan Polen. Kenapa masyarakat sasaran dan Nakes disana harus diajak jauh-jauh ke Aula Mutis dan bukan sebaliknya 1100 dosis vaksin itu yang didistribusi ke kecamatan-kecamatan tersebut?
Saya memahami bahwa dalam mempercepat cakupan vaksin, dibutuhkan kolaborasi lintas Sektor yakni Pemerintah dan TNI/ POLRI tapi menurut saya caranya bukan membagi wilayah secara aneh seperti ini.
Saya tidak bermaksud mengkerdilkan peran dari TNI/POLRI dalam urusan vaksin ini namun menurut saya mestinya Dinas Kesehatan memaksimalkan dulu fasilitas dan nakes Puskesmas di Kecamatan – Kecamatan.
Fasilitasi puskesmas dengan vaksin, baru kalau memang masih ada dosis vaksin lebih, nah itulah yang diatur bersama dengan TNI/POLRI. Itupun jika TNI/POLRI memiliki Faskes yang mendukung untuk proses vaksinasi, tapi jika kemudian pelaksanaanya masih mendatangkan Nakes dari Puskesmas-Puskesmas di Kecamatan saya kira itu bukan kolaborasi yang dimaksud Presiden Jokowi dalam memberi Instruksi percepatan Vaksin.
Tolonglah…!!
Dinas Kesehatan dan Gugus Tugas Covid di TTS untuk pikirkan kembali strategi ini, demi percepatan cakupan vaksin secara murah dan adil bagi seluruh masyarakat TTS, atau Ada apa????.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here