Tandai Dengan Peletakan Batu Pertama, Konservasi Rusa Di Waturia Resmi Dibangun

0
Kawasan Konservasi Rusa Di Waturia Gagasan Kelompok Mesi Roa

Maumere,GaharuNews.com – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi NTT, Ir. Arief Mahmud, M.Si dan Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos.M.Si, melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Kawasan Konservasi Rusa yang digagas oleh Kelompok Masyarakat Mesi Roa, Desa Persiapan Waturia.

Kegiatan ini berlangsung saat keduanya melakukan kunjungan kerja di Kampung Watuwoga, Desa Persiapan Waturia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Rabu (03/11/2021).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, Ir. Arief Mahmud, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang perlu dilakukan upaya dengan mendirikan kelompok konservasi rusa berbasis masyarakat.

“Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melalui Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan BBKSDA NTT, selalu berupaya untuk memberikan stimulus kepada masyarakat NTT khususnya di Kabupaten Sikka, sebagai pengungkit kegiatan peningkatan ekonomi jangka pendek, menengah dan jangka panjang kepada masyarakat sebagai bagian dari penyiapan masyarakat di tingkat bawah menyambut era pembangunan destinasi pariwisata di Flores dan sekitarnya. Salah satunya dengan mendirikan kelompok konservasi rusa berbasis masyarakat,” jelas Arief Mahmud.

Kepala BBKSDA NTT, Ir. Arief Mahmud, M.Si Ketika Melakukan Prosesi Peletakkan Batu Pertama Pembangunan Kawasan Konservasi Rusa Waturia

Arief Mahmud mengatakan, untuk wilayah Flores, pihaknya berencana menginisisasi 5 kelompok masyarakat Pelestari Rusa Timor yakni di Kabupaten Sikka 2 kelompok yaitu Kelompok Mesi Roa di Desa Kolisia dan Kelompok Wirapoka di Desa Bu Watuweti. Kemudian 2 kelompok lagi di Kabupaten Nagekeo dan 1 Kelompoknya di Kabupaten Ende.

Menurutnya, diseluruh wilayah kerja BKSDA di Provinsi NTT saat ini sudah terbentuk 23 kelompok pemberdayaan masyarakat dalam program pemberdayaan dan 19 kelompok kemitraan yang didampingi dalam rangka penyusunan pelaksanaan program dan rencana kerja tahunan.

Arief menyampaikan bahwa, tidak mungkin kita berwisata didaerah yang konservasinya rusak. Kegiatan penangkaran rusa menjadi salah satu dari sekian banyak upaya upaya konservasi yang kita lakukan untuk mendukung kegiatan pariwisata ke depan, ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut dikatakan Arief, tahun ini merupakan tahun yang sulit dan berat bagi seluruh masyarakat karena adanya Pandemi Covid-19, namun kita harus bersemangat untuk bangkit memenangkan pertarungan melawan Covid-19.

Oleh karena itu tutur Arief, KLH melalui Dirjen KSDAE mengarahkan Kebijakan Program Konservasi Sumber Daya Alam dengan mekanisme bantuan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk menjaga imunitas masyarakat dan kita semua, ucapnya.

“Tidak hanya imunitas mengenai kesehatan tetapi juga terkait kualitas ekonominya. Tentu kami tidak bisa bekerja sendiri, kami berharap mendapat dukungan dari Bupati dan Dinas terkait, dengan harapan program ini berhasil dan berkembang pesat,” kata Arief Mahmud yang baru seminggu bertugas di NTT ini.

Penggagas sekaligus inisiator program Konservasi Rusa, Wilfridus Yons Ebit mengatakan, bicara tentang konservasi rusa menjadi suatu yang langka dan asing khusus untuk kita di daerah Flores.

Ia menguraikan bahwa sekitar 2,5 tahun yang lalu, kebetulan ada interaksi yang begitu aktif, komunikasi yang intens dengan Dirjen KSDA, bapak Wiratno, beliau selalu menceritakan soal konservasi rusa yang terjadi di wilayah Jawa, Sumatera dan lainnya.

Sebagai orang NTT yang kebetulan saja ada hubungan dan komunikasi yang intens dengan Dirjen lanjut Ebit, dirinya mencoba meminta kepada Dirjen KSDA untuk membuat juga konservasi rusa di wilayahnya.“Kami disana ada rusa meskipun rusa liar, siapa tau bisa ditata dengan baik,” ujarnya meminta.

Lalu, gagasan besar tentang bagaimana membangun wisata sosial kata Yons, terintegrasi dengan wisata super premium Labuan Bajo menurutnya itu akan menjadi lebih baik. Dan Dirjen KSDA pun setuju untuk dibuatkan juga di wilayah Flores yang salah satunya di Waturia.

Ebit mengakui bahwa awalnya memang mustahil, dari proses yang tidak mungkin ini pihaknya menjajaki pelan-pelan.

Prinsipnya, adalah membangun wisata sosial yang mana masyarakat sebagai subjek, masyarakat menjadi pelaku utama, masyarakat harus berkolaborasi mulai dari tingkatan terbawah, tegasnya.

“Jadi ada komunikasi yang begitu integral, komunikasi yang menyatu, sehingga konsep yang awlanya dibangun itu, inisiatifnya dari masyarakat. Tentu ini sebuah gagasan besar yang juga membutuhkan SDM besar. Semangat kita telah punya, tentu kita butuh arahan,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Sikka, Robi Idong mengatakan, hari ini kita semua berkeyakinan bahwa kegiatan untuk penangkaran rusa di Kawasan Waturia, Kecamatan Magepanda pasti berhasil.

Dengan adanya peletakkan batu sebagai kesiapan berarti sudah ada komitmen dari kita semua untuk ikut ambil bagian dalam melaksnakan program ini.

Bupati Sikka, Robi Idong Ketika Melakukan Prosesi Peletakkan Batu Pertama Pembangunan Kawasan Konservasi Rusa Waturia

“Ini program pilihan yang tidak gampang. Terus terang, Pemkab Sikka saja tidak pernah menginisiasi ini. Kami sibuk dengan kegiatan otonom, tapi ada putra daerah yang menginisiasi memberikan gagasan untuk melakukan itu,” ungkap Bupati Robi Idong.

Bupati berharap dengan dilakukannya konservasi rusa ini, berarti menghidupkan kembali kekayaan masyarakat Flores yang selama ini tidak tersentuh, tidak diperhatikan.

Menurutnya, yang memiliki tempat penangkaran rusa ini adalah masyarakat Waturia, BBKSDA hanya memfasilitasi.

“Harus ada rasa memiliki, kita jaga rusa-rusa ini supaya berkembang biak dengan baik. Nanti pengaturan ke depan pasti difasilitasi oleh BKSDA, nanti bagaimana modelnya, kita ikuti saja. Ini pesan saya sebagai Bupati,” pungkasnya.

Pantauan media, usai peletakkan batu pertama pembangunan kawasan Konservasi Rusa Mesi Roa oleh Bupati Sikka dan Kepala BBKSDA NTT, dilanjutkan dengan penanaman pohon mahoni dan cendana di lokasi konservasi. (FD-GN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here