RAZIA TIM DIRESKRIMSUS POLDA NTT, TOKO DAN SWALAYAN DI MAUMERE TERANCAM PIDANA

0
Foto : Penemuan Bahan Bukti Oleh Reskrim Polda NTT

GAHARU NEWS.COM, MAUMERE – Satu toko berinisial C dan Swalayan berinisial PA di Kota Maumere, Sikka terancam dipidana lantaran diduga telah melakukan pelanggaran dalam razia oleh tim Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTT sejak Rabu-Sabtu (15-18/09/2021).

PLT Kanit, Subdit I Industri dan Perdagangan Ditreskrimsus Polda NTT, AKP. Libartino Silaban, SH., S.I.K., didampingi Kasat Reskrim Polres Sikka, Iptu. Wahyu Agha Ari Septyan dalam keterangan pers kepada media di Polres Sikka, Senin (20/09/2021) menjelaskan, di Swalayan PA, timnya menemukan mentega kuning dan putih dengan berat 1 Kg dijual dalam kemasan yang tidak mencantumkan keterangan atau penjelasan atas mentega tersebut.
Mentega berwarna kuning bermerek Amanda tersebut awal mulanya dibeli oleh pihak Swalayan PA dalam kemasan dos dengan berat 15 Kg. Itu kemudian dibagi dalam kemasan berbungkus plastik dengan ukuran berat masing masing 1 Kg. Menurut petugas, tindakan yang dilakukan oleh manajemen Swalayan PA tersebut dinilai telah melanggar Pasal 62 Undang Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen lantaran tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa pada kemasan, tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan halal yang tercantum di dalam label, tidak memasang label atau membuat penjelasan barang dan tidak mencantumkan informasi dan/petunjuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. Terhadap dugaan tindak pidana tersebut, Manajer Swalayan PA terancam hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 2 miliar
Sedangkan menurut petugas, Toko C diduga telah melakukan tindak pidana pelanggaran terhadap Pasal 139 Jo Pasal 84 Ayat (1) Undang Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang pangan. Dimana dalam razia tersebut, petugas menemukan pemilik Toko C mengubah kemasan karung beras ukuran 50 Kg dengan merk Super Spesial dibagi ke dalam karung dengan merek Kepala Singa ukuran 20 Kg dan 10 Kg untuk dijual kembali kepada konsumen. Terhadap dugaan tindak pidana tersebut, pemilik terancam hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 10 miliar.

Mentega Dibeli dari Toko Teratai dan Toko Kemah Berkat
Sementara itu, manajer Swalayan PA, Yuvensius, dikonfirmasi media menjelaskan, ada dua jenis mentega yang dijual pihaknya yakni mentega kuning dan putih. Mentega kuning dengan merek Amanda itu dibeli pihaknya dari Toko Teratai dalam kemasan dos dengan ukuran berat 15 Kg. Sedangkan mentega putih dibeli pihaknya dari Toko Kemah Berkat dalam kemasan plastik dengan ukuran 1 kg tanpa label atau merek. Ada 3 kg yang dibeli.
“Kalau mentega kuning itu merek Amanda, kami beli dari Toko Teratai. 1 dosnya seberat 15 kg. Karena permintaan konsumen, kemudian kami bagi bagi ke dalam kemasan 1 kg. Sedangkan mentega putih itu kami beli dari Toko Kemah Berkat dalam kemasan 1 Kg yang tidak ada label atau keterangan tentang barang tersebut. Ada 3 Kg yang kami beli,” jelasnya.

Ia mengakui, bahwa semenjak Swalayan PA berdiri 5 tahun lalu, pihaknya sudah menjual mentega tersebut dan tidak ada komplain dari konsumen. Selama kurun waktu tersebut, Tim BPOM dan Disperindag Sikka rutin melakukan pengawasan. “Kami tidak menjual mentega ilegal atau kadaluarsa, sebab di dos kemasan tercantum merek dan batas masa berlaku,” jelasnya.

Di Toko Kemah Berkat, Tim Polda Hanya Anjurkan Tambahkan Label dan Tanggal Kadaluarsa
Sementara itu, pemilik Toko Kemah Berkat, Juanita, dikonfirmasi media membenarkan bahwa pihaknya juga dipanggil untuk diperiksa di Hotel Go setelah tokonya didatangi oleh tim Ditreskrimsus Polda NTT. “Hari Jumat sore saya bertemu petugas di Hotel Go. Kalau pagi saya bilang saya tidak bisa. Makanya datang ke Hotel Go pada sore hari,” jelasnya.
Ia menjelaskan, tokonya juga menjual mentega kuning dan putih merk Amanda dalam kemasan 1 kg dan ½ kg. Mentega tersebut ia beli dari Toko Tanjung Raya, Maumere dalam kemasan dos dengan ukuran 15 Kg. “Saya biasa beli di Tanjung Raya. Saya juga beli disini baru saya kemas lagi satu satu kilo. Kan pembeli banyak cari ukuran 1 kg,” jelasnya.
Ia mengakui, petugas hanya menganjurkan kepadanya untuk menambahkan stiker tanggal kadaluarsa dan merek pada kemasan mentega ukuran 1 Kg yang dijual tersebut.

“Cuma dia kasih tau saya tidak boleh begitu, harus pakai stiker, tulis 1 kilo, tanggal ekspayernya. Dia suruh saya begitu, saya bilang baik. Saya hanya masalah itu saja. Saya tidak tahu kalau yang lain,” jelasnya sembari menunjukan mentega kuning dan putih kemasan 1 Kg yang sudah di beri stiker tulisan tangan merek dan tanggal kadaluarsa.

Sementara itu, pantauan media di Toko Teratai juga menjual mentega kuning merk Amanda dalam kemasan 1 Kg dan ½ Kg tanpa diberi label merek dan tanggal kadaluarsa. Mentega tersebut dijual dengan harga Rp. 7.500 dan Rp. 15.000. (GN-FD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here