NTT Surga Arkeologi Internasional, Makam anak berusia 8 Ribu Tahun ditemukan di Alor

0
456

Alor, Gua Makpan – Dunia dihebohkan dengan penemuan ratusan sarkofogus  berusia 2500 tahun di mesir, tak kalah dengan penemuan di mesir tersebut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)tepatnya di kabupaten Alor awal bulan November 2020 di gua Makpan, ditemukan Makam Anak kecil  yang diperkirakan telah berusia 8000 tahun ,sehingga  tak salah rasanya  bila Provinsi NTT disebut menjadi surga bagi para arkeolog lokal maupun internasional. Sudah banyak temuan dari zaman prasejarah yang ditemukan di provinsi kepulauan ini.

Contohnya di Situs Liang Bua, Ruteng, bagian tengah Pulau Flores. Di tempat itu dikenal sebagai daerah ditemukannya berbagai macam artefak dan fosil hewan purba, di antaranya gajah Stegodon florensis. Dibagian barat pulau flores selain dikenal karena Binatang Purba Komodo yang termasuk dalam 7 keajaiban dunia baru . Di daerah pesisir Kabupaten Manggarai Barat juga ada sisa-sisa peninggalan zaman purba berupa Gua Batu Cermin dan Batu Payung. Keduanya merupakan batuan karang yang diperkirakan dulu letaknya ada di dalam laut. Dikatakan demikian karena para peneliti menemukan sejumlah fosil biota laut, seperti fosil penyu dan terumbu karang. Kedua tempat ini kini menjadi salah satu destinasi andalan wisata premium di kawasan NTT.

gua Batu Cermin Labuan Bajo Manggarai Barat

Di kuitp dari Phys, tim peneliti arkeologi dari Australian National University menemukan sebuah makam di Gua Makpan, Pulau Alor, pada awal bulan November 2020. Makam tersebut merupakan tempat penguburan satu-satunya di wilayah tersebut dan berasal dari masa awal pertengahan Holosen.

Adapun di dalam makam yang diperkirakan berusia 8 ribu tahun ditemukan sisa-sisa tulang seorang anak kecil. Peneliti utama dalam studi ini, Dr. Sofia Samper Carro, menyebutkan anak yang dikuburkan di makam itu berusia sekitar empat hingga delapan tahun. Menurut penilaiannya, anak tersebut dimakamkan dengan semacam upacara. Temuan ini jelas memberikan wawasan penting mengenai praktik penguburan pada masa itu.

“Pigmen berwarna oker (coklat kekuningan) dioleskan di pipi dan dahi. Sementara itu, batu bulat berwarna ditempatkan di bawah kepala anak ketika dikuburkan,” jelas Samper Carro. Lebih lanjut, Samper Carro menyebut bahwa makam anak sangat jarang ditemukan dan penguburan lengkap seperti di Pulau Alor ini merupakan satu-satunya makam yang berasal dari periode Holosen.

“Dari 3.000 tahun yang lalu hingga zaman modern, kami mulai lebih banyak penguburan anak-anak. Namun kami belum mengetahui bagaimana orang-orang pada periode awal Holosen memperlakukan anak-anak mereka yang meninggal. Temuan ini akan memberikan wawasan,” ungkap Samper Carro.

Dalam studinya, peneliti juga menemukan tulang lengan dan kaki anak diambil terlebih dahulu sebelum dimakamkan. Praktik menghilangkan tulang tersebut sebelumnya pernah didokumentasikan di beberapa pemakaman lain dari periode waktu yang sama di sejumlah daerah di Indonesia, yaitu Jawa, Kalimantan, dan Flores. Namun, menurut Samper Carro, ini pertama kalinya ia dan tim melihat praktik tersebut dalam pemakaman anak.

“Kami tidak tahu mengapa praktik menghilangkan tulang ini dilakukan, tetapi sepertinya merupakan sebagian aspek dari sistem kepercayaan orang-orang yang hidup saat itu,” jelasnya.

Belum diketahui jenis kelamin dari jenazah bocah tersebut. Kerangkanya sangat kecil, sehingga mungkin pertumbuhannya terhambat karena faktor genetis atau lingkungan. (gn/tim)

Studi berjudul Burial practices in the early mid-Holocene of the Wallacean Islands: A sub-adult burial from Gua Makpan, Alor Island, Indonesia ini dipublikasikan di Quaternary International

Artikel ini telah terbit di God News From Indonesia degan judul Temuan Arkeologi di pulau Alor, makam anak berusia 8 Ribu Tahun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here